Tinjauan Pragmatik dalam Al Qur’an

Fenomena Tindak Tutur dalam Surat Al Ghasyiyyah : Suatu Tinjauan Pragmatik

Hurul Jinani[1]

 

Abstrak: Al Quran merupakan media komunikasi antara Tuhan dengan hambaNya. Al Quran diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab yang di dalamnya terdapat kandungan nilai sastra yang tinggi. Al Ghasyiyyah merupakan surat yang didalamnya membahas mengenai keadaan manusia saat hari kiamat. Dalam penafsiran Al Quran membutuhkan strategi tertentu. Salah satu  strategi dan metode khusus dalam penafsiran Al Quran adalah strategi pragmatik. Tindak tutur merupakan fenomena pragmatik yang dapat digunakan dalam penafsiran Al Quran. Tindak tutur menjadi tiga bagian, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi.

Keyword: Pragmatik, Tindak Tutur, Al Ghasyiyah.

Al Quran merupakan media komunikasi antara Tuhan dengan hambaNya. Al Quran diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab yang di dalamnya terdapat kandungan nilai sastra yang tinggi.  Dalam Al Quran terdapat beragam kalimat yang menjelaskan tentang makna-makna tertentu. Sejak diturunkan Al Quran kerap menjadi objek studi para pakar bahasa. Hingga kini telah muncul banyak ahli tafsir  Al Quran. Namun umumnya mereka hanya mengkajinya dalam pemahaman dari aspek tertentu seperti fikih, tauhid, dan kisah.

Para ahli tafsir modern mulai mengkaji Al Quran secara fungsional dimana   fungsi   dan   tujuan diwahyukannya   Al Quran   kepada   manusia   adalah   untuk   memberikan petunjuk   (hudan),   sebagaimana   yang   digagas   oleh   Muhammad   Abduh. Mu’in (2008:93) mengatakan bahwa menurut Abduh, tujuan yang pertama dan utama dari ilmu tafsir adalah merealisasikan keberadaan Al Qur ’an itu sendiri sebagai petunjuk (hudan) dan    rahmat     Allah    swt,   dengan     menjelaskan        hikmah     kodifikasi kepercayaan,   etika   dan   hukum   menurut   cara   yang   paling   bisa   diterima oleh pikiran dan menenangkan perasaan. Dengan demikian, tujuan yang sebenarnya   dari   tafsir   Al Qur an   adalah   untuk   mencari   petunjuk kebenaran   di   dalam AlQuran.

Oleh karena itu para ahli tafsir modern mulai menggunakan pendekatan linguistik untuk mengkaji tentang Al Quran secara fungsional yakni pendekatan pragmatik. Pragmatik adalah studi tentang hubungan bahasa dan konteksnya yang merupakan dasar penentuan dan pemahamannya (Levinson dalam Ainin: 2001: 125)

Salah satu fenomena pragmatik yang dapat digunakan untuk mengungkapkan makna dalam Al Quran adalah teori tindak tutur. Kartomiharjo (1992) mengatakan bahwa dalam teori tindak tutur, sebuah ujaran bisa diinterpretasikan sebagai pemberitahuan, ucapan kegembiraan, mengingatkan orang yang diajak berbicara dengan janjinya yang terdahulu, dan sebagainya. Suatu tindak tutur tidak selalu mengungkapkan satu fungsi saja namun ada tujuan-tujuan dan fungsi yang lain dari tindak tutur tersebut yang sesuai dengan konteksnya.

Surat Al Ghasyiyah adalah surat makiyah yang ke 88 dan terdiri dari 26 ayat. . Di dalamnya diterangkan mengenai suasana dan pembalasan terhadap orang kafir dan orang mukmin atas perbuatan yang telah dilakukan di dunia. Namun, pesan dalam Al Quran tidak selalu dapat dipahami dengan memahami satu ujaran saja namun harus dikaitkan dengan konteks kalimatnya. Terkadang para ahli tafsir juga harus memperhatikan segi sosio-historis atau asbabunnuzul  untuk memahami suatu ujaran dalam Al Quran. Bahkan beberapa ulama muhaqqiqun mengharamkan seseorang yang berani menafsirkan Alquran tanpa mengetahui asbabunnuzul nya.

Al Qattan(1973: 108) dalam kitab Mabahits fi Ulumil Qur’an berkata bahwa sebab turunnya Al Quran berkisar pada dua hal yakni bila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat Al Quran yang berkaitan dengan peristiwa itu. Sebab yang kedua adalah bila Rasulullah ditanya tentang suatu hal, maka turunlah ayat Al Quran yang menerangan hukumnya.

Namun hal ini tidak berarti bahwa setiap orang harus mencari sebab turunnya ayat Al Quran , karena tidak semua ayat diturunkan karena timbul suatu peristiwa dan kejadian, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada beberapa Al Quran yang diturunkan sebagai permulaan, tanpa sebab, mengenai akidah, iman, kewajiban Islam dan syariat Allah dalam kehidupan pribadi sosial.

Berkaitan dengan uraian di atas maka masalah yang mengemuka adalah  fenoma tindak tutur yang ada dalam Surat Al Ghasyiyah. Sehubungan dengan hal ini, artikel ini mengemukakan bahasan hakikat pragmatik, teori tindak tutur, dan fenomena tindak tutur dalam surat Al Ghasyiyah.

A.    Hakikat Pragmatik

      Dua puluh lima tahun silam para ahli linguistik tidak pernah menyebut istilah pragmatik. Menurut Levinson dalam Ainin (2001: 123) istilah pragmatik pertama digunakan oleh filosof kenamaan, yaitu Charles Morris (1938). Dia mempunyai perhatian pada suatu ilmu yang mengkaji sistem tanda (semiotik). Dalam semiotik ini, Charles Morris membedakan tiga konsep dasar, yaitu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Sintaksis mengkaji hubungan formal tanda-tanda (tanda bahasa), semantik mengkaji hubungan antara tanda dan objek, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara tanda-tanda dengan penafsir.

Menurut Levinson dalam Ainin (2001: 125) pragmatik adalah studi bahasa yang mengkaji hubungan antara bahasa dengan konteksnya yang merupakan dasar dari penentuan pemahamannya. Leech (1983: 19) berpendapat bahwa pragmatik adalah studi mengenai makna dalam hubungannya dengan situasi ujar. Aspek situasi-situasi ujar meliputi penyapa dan pesapa, konteks sebuah tuturan, tujuan sebuah tuturan, tuturan sebagai sebuah bentuk tindakan, dan tuturan sebagai produk suatu tindak verbal.

Berdasarkan pendapat di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kajian pragmatik mengacu pada penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan konteks. Jadi dapat disimpulkan, pragmatik adalah ilmu yang menelaah bagaimana keberadaan konteks mempengaruhi dalam menafsirkan kalimat. Di sinilah letak perbedaan pragmatik dengan semantik, sebab telaah semantik bersifat bebas konteks. Dengan kata lain, persoalan yang dikaji oleh semantik adalah makna kata-kata yang dituturkan, dan bukan maksud tuturan penutur.

Dalam kaitannya dengan kajian terhadap teks Al Quran, pemahaman tentang konteks atau sosio historis diturunkannya ayat-ayat suci Al Quran amatlah penting, meskipun tidak semua ayat Al Quran yang diturunkan memiliki asbabun nuzul(Zuhdi dalam Ainin, 2001: 126).

Muhammad Abduh menjelaskan salah satu langkah  menafsirkan Al Quran  yaitu mengetahui ilmu mengenai kondisi manusia serta kondisi masyarakat Arab pada era kenabian termasuk juga tentang perjalanan Rasulullah dan para sahabatnya(Al Khuli dan Abu Zayd, 2004: 128). Namun terdapat pula beberapa ayat Al Quran yang diturunkan tanpa sebab dan hanya sebagai peringatan dan akidah.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pragmatik merupakan suatu cabang linguistik yang mengkaji makna suatu ujaran melalui pemahaman konteks yang menyertai ujaran tersebut.

B.     Teori Tindak Tutur

Salah satu fenomena pragmatik yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengungkapkan makna dalam Al Quran adalah teori tindak tutur. Teori ini pada mulanya dilemukakam oleh ahli filsafat bahasa John Austin pada tahun 1962 (kartomiharjo dalam Ainin, 2001:129). Dalam teori ini dikemukakan bahwa meskipun kalimat sering dapat digunakan untuk memberitahukan perihal keadaan, dalam keadaan tertentu harus dianggap sebagai pelaksanaan tindakan (Leech,1983:21). setiap kalimat dapat digunakan untuk fungsi-fungsi tertentu,misalnya untuk memberikan informasi, peringatan, tawaran untuk melakukan sesuatu, menanyakan fakta, atau memberikan ucapan termakasih.

Dalam kaitannya dengan tindak tutur ini Austin dalam Ainin dan Asrori (2008: 144) membedakan tindak tutur menjadi tiga bagian, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi.

1. Tindak Lokusi (locutionary act)

Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tuturan ini disebut sebagai The act of saying something. Dalam tindak lokusi, tuturan dilakukan hanya untuk menyatakan sesuatu tanpa ada tendensi atau tujuan yang lain, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak lokusi relatif mudah untuk diindentifikasikan dalam tuturan karena pengidentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur (Wijana melalui Hidayati, 2009:83). Dalam kajian pragmatik, tindak lokusi ini tidak begitu berperan untuk memahami suatu tuturan.

 2. Tindak Ilokusi (illocutionary act)

Tindak ilokusi ialah tindak tutur yang tidak hanya berfungsi untuk menginformasikan sesuatu namun juga untuk melakukan sesuatu. Tuturan ini disebut sebagai  The act of doing something. Contoh, kalimat ‘Saya tidak dapat datang’ bila diucapkan kepada teman yang baru saja merayakan pesta pernikahannya tidak saja berfungsi untuk menyatakan bahwa dia tidak dapat menghadiri pesta tersebut, tetapi juga berfungsi untuk melakukan sesuatu untuk meminta maaf. Tindak ilokusi sangat sukar dikenali bila tidak memperhatikan terlebih dahulu siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya.

Searle dalam Leech (1993:164-166) membagi tindak ilokusi ini menjadi lima yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi.

  • Tindak asertif merupakan tindak yang menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu adanya, artinya tindak tutur ini mengikat penuturnya pada kebenaran atas apa yang dituturkannya (seperti menyatakan, mengusulkan, melaporkan)
  • Tindak komisif ialah tindak tutur yang berfungsi mendorong penutur melakukan sesuatu. Ilokusi ini berfungsi menyenangkan dan kurang bersifat kompetitif karena tidak mengacu pada kepentingan penutur tetapi pada kepentingan lawan tuturnya (seperti menjanjikan, menawarkan, dan sebagainya)
  • Tindak direktif yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong lawan tutur melakukan sesuatu. Pada dasarnya, ilokusi ini bisa memerintah lawan tutur melakukan sesuatu tindakan baik verbal maupun nonverbal (seperti memohon, menuntut, memesan, menasihati)
  • Tindak ekspresif merupakan tindak tutur yang menyangkut perasaan dan sikap. Tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis penutur terhadap lawan tutur (seperti mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam)
  • Tindak deklaratif ialah tindak tutur yang berfungsi untuk memantapkan atau membenarkan sesuatu tindak tutur yang lain atau tindak tutur sebelumnya. Dengan kata lain, tindak deklaratif ini dilakukan penutur dengan maksud untuk menciptakan hal, status, keadaan yang baru (seperti memutuskan, melarang, mengijinkan).

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pemahaman terhadap tindak ilokusi merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur.

3.  Perlokusi (perlocutionary act)

Tindak perlokusi yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat (Nababan dalam Lubis, 1999:9). Tuturan ini  disebut sebagai The act of affecting someone. Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force) atau efek bagi yang mendengarnya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan perlokusi. Tindak perlokusi ini biasa ditemui pada wacana iklan. Sebab wacana iklan meskipun secara sepintas merupakan berita tetapi bila diamati lebih jauh daya ilokusi dan perlokusinya sangat besar.

C.    Fenomena Tindak Tutur dalam Surat Al Ghasyiyah

Surat Al Ghasyiyah terdiri dari 26 ayat, temasuk kelompok Surat Makiyyah, diturunkan sesudah Surat Az Dzariyat. Nama Al Ghasyiyah diambil dari kata fi’il madhighasiya”, kata mashdarnyaghisyawah” dan “ghasyiyah”. Arti dasarnya adalah menutupi dan mendatangi. Dalam kamus Al Munawwir (1997: 1007) tertulis bahwa kata al ghasyiyah sendiri dapat diartikan sebagai ghitho’ atau tutup.  Al Ghasyiyah merupakan salah satu nama lain dari hari kiamat. Dinamakan demikian karena hari kiamat adalah kejadian besar  dan malapetaka yang menyelimuti perasaan seluruh manusia. Seluruh perhatian mereka tercurahkan pada kejadian ini.

Pokok-pokok isi surat ini menjelaskan tentang orang-orang kafir pada hari kiamat dan  adzab yang dijatuhkan atas mereka serta keterangan tentang orang-orang beriman dan keadaan surga yang diberikan kepada mereka sebagai balasan. Dalam surat ini juga dijelaskan mengenai perintah Allah kepada rasulullah untuk memperingatkan kaumnya kepada ayat-ayat Allah. Secara umum tujuan-tujuan tersebut yang tersirat dalam Surat Al Ghasyiyah. Namun, berikut akan kita bahas fenomena tindak tutur dalam Surat Al Ghasyiyah lebih terperinci.

Keadaan Penghuni Neraka

Al Ghasyiyyah ayat 1-7

1. sudah datangkah kepadamu berita (Tentang) hari pembalasan?

2. banyak muka pada hari itu tunduk terhina,

3. bekerja keras lagi kepayahan,

4. memasuki api yang sangat panas (neraka),

5. diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.

6. mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,

7. yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

Dalam beberapa ayat di atas mengandung fenomena tindak tutur yakni tindak ilokusi. Tindak ilokusi adalah sebuah tindak tutur yang selain berfungsi untuk menginformasikan sesuatu, juga berfungsi untuk melakukan sesuatu. Pada ayat pertama di atas Allah menyindir penduduk neraka dengan mengatakan “sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari kiamat?”(Depag, 2007:642). Sebelumnya memang rasulullah telah memberikan peringatan mengenai hari kiamat namun mereka tidak peduli bahkan melupakannya. Oleh karena itu Allah menyindir mereka. Tindakan ini dapat digolongkan pada tindak ekspresif yakni tindakan tindak tutur yang menyangkut perasaan dan sikap. Tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis penutur terhadap lawan tutur (seperti mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam menyindir)

Kemudian pada ayat kedua Allah menjelaskan bahwa manusia ketika itu terbagi dua yakni golongan kafir dan golongan mukmin. Golongan kafir ketika melihat kedahsyatan yang terjadi pada hari itu akan merasa tunduk dan terhina.ayat ini hanya mengandung tindak lokusi saja karena hanya bertujuan sebagai pemberitahuan bahwa ada dua golongan manusia ketika hari kiamat yakni orang kafir dan orang mukmin.

Pada ayat ketiga Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir itu semasa hidup di dunia bekerja dengan rajin dan bersungguh-sungguh. Akan tetapi perbuatan mereka tidak diterima karena mereka tidak beriman kepada Allah dan RasulNya yang merupakan syarat utama untuk diterimanya perbuatan dan mendapat ganjarannya(Depag, 2007:642). Ayat ini mengandung tindak ilokusi yakni tindak asertif. Tindak asertif adalah Tindak asertif merupakan tindak yang menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu adanya, artinya tindak tutur ini mengikat penuturnya pada kebenaran atas apa yang dituturkannya (seperti menyatakan, mengusulkan, melaporkan). Maka Allah menurunkan ayat ini agar manusia terikat dengan ketetapan tersebut. Yaitu kenyataan bahwa orang kafir itu tidak akan diterima amal ibadahnya walaupun dia bekerja keras dan bersungguh-sungguh.

Pada ayat keempat sampai ketujuh Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir akan dimasukkan ke dalam neraka. Bila meminta air karena haus, maka mereka akan diberi air bersumber dari mata air yang sangat panas. Bila mereka meminta makan, maka mereka akan diberi makanan yang jelek yang tidak ada artinya dan tidak menghilangkan lapar sama sekali.(Depag, 2007: 642). Ayat ini mengandung tindak ilokusi asertif. Allah menurunkan ini agar manusia dihadapkan dengan kenyataan bahwa keadaan orang kafir sedemikian rupa ketika dimaukkan ke dalam neraka.

 

Keadaan Penghuni Surga

Al Ghasyiyyah ayat 8-16

8. banyak muka pada hari itu berseri-seri,

9. merasa senang karena usahanya,

10. dalam syurga yang tinggi,

11. tidak kamu dengar di dalamnya Perkataan yang tidak berguna.

12. di dalamnya ada mata air yang mengalir.

13. di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan,

14. dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya),

15. dan bantal-bantal sandaran yang tersusun,

16. dan permadani-permadani yang terhampar.

 

Pada ayat kedelapandan sembilan Allah menerangkan bahwa di dalam surga, muka orang mukmin berseri penuh kegembiraan. Mereka merasa senang melihat hasil usaha mereka yang mendapat keridhaan dari Allah SWT yang kemudian mendapatkan imbalan surga yang diidam-idamkan(Depag, 2007: 645).

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah menjelaskan bahwa surga itu tempat yang bernilai tinggi, dimana didalamnya tidak terdengar perkataan-perkataan yang tidak berguna karena surga adalah tempat yang dikasihi oleh Allah. Di dalamnya terdapat mata air yang mengalirkan air bersih yang menarik pandangan bagi siapa saja yang melihatnya. Dalam surga tedapat mahligai yang tinggi, gelas-gelas berisi air yang siap diminum, serta bantal-bantal yang tersusun sesuai dengan keinginan mereka, duduk di atasnya atau dipakai untuk bersandar dan sebagainya. Di sana terdapat pula permadani yang indah yang terdampar di setiap tempat serta terdapat segala macam kenikmatan rohani dan jasmai yang jauh dari yag kita bayangkan (Depag, 2007:645).

Pada ayat- ayat sebelumnya telah dijelaskan keadaan orang kafir yang dimasukkan ke dalam neraka ketika hari kiamat. Setelah itu Allah menjelaskan keadaan orang mukmin yang dimasukkan ke dalam surga ketika hari kiamat. Ayat- ayat ini mengandung tidak ilokusi asertif . Ayat ini diturunkan agar manusia dihadapkan dengan kenyataan keadaan orang mukmin sedemikian rupa ketika hari kiamat. Dengan demikian manusia dapat membandingkan dengan sendirinya keadaan orang kafir dan keadaan orang mukmin ketika hari kiamat serta memutuskan untuk menjadi bagian dari golongan yang mana.

Anjuran Memperhatikan Alam Semesta

Al Ghasyiyyah ayat 17-20

17. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan,

18. dan langit, bagaimana ia ditinggikan?

19. dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?

20. dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Dalam ayat-ayat ini Allah mempertanyakan apakah mereka tidak memperhatikan bagaiman unta, yang ada di depan mereka dan digunakan setiap waktu, diciptakan. Bagaimana pula langit berada di tempat yang tinggi tanpa tiang. Bagaimana gunung dipancangkan dengan kukuh, tidak bergoyang dan dijadikan petunjuk bagi orang dalam perjalanan. Di atasnya terdapat danau dan mata air yang dapat memberi minum binatang ternak. Bagaimana pula bumi dihamparkan sebagai tempat tinggal manusia(Depag, 2007: 647)

Ayat-ayat diatas berbentuk pertanyaan namun tujuan yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut adalah sebagai anjuran. Allah menganjurkan manusia untuk merenung tentang penciptaan alam di sekitar mereka. Maka tindak tutur yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut adalah tindak ilokusi direktif. Tindak direktif yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong lawan tutur melakukan sesuatu.

Tugas Rasul hanya Mengingatkan Bukan Memaksa

Al Ghasyiyyah ayat 21-26

21. Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

22. kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

23. tetapi orang yang berpaling dan kafir,

24. Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar.

25. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,

26. kemudian Sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.

Dalam ayat kedua puluh satu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar memberi peringatan dan petunjuk serta menyampaikan agamaNya kepada umat manusia, karena tugasnya tak lain hanyalah memberi peringatan dengan menyampaikan kabar gembira dan kabar menakutkan. Pada ayat duapuluh dua sampai duapuluh empat Allah menerangkan bahwa Nabi Muhammad tidak berkuasa menjadikan seseorang beriman. Akan tetapi Allah lah yang berkuasa menjadikan manusia beriman. Sementara itu barang siapa yang berpaling dan mengingkari petunjuk NabiNya, niscaya Allah akan menghukumnya (Depag, 2007: 648) Ayat-ayat tersebut merupakan tindak lokusi karena berupa pemberitaan saja yakni Allah memberitakan tugas NabiNya.

Sedangkan pada ayat selanjutnya hingga ayat yang terakhir Allah menerangkan bahwa mereka akan kembali padaNya. Tidak ada jalan bagi mereka untuk lari dari padaNya. Dialah yang menghisab mereka atas perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia kemudian menjatuhkan hukumanNya. Ayat-ayat ini adalah penghibur bagi Nabi Muhammad dan sebagai obat bagi kesedihan dan kepedihan hatinya atas keingkaran orang-orang kafir. Ayat-ayat tersebut mengandung tindak ilokusi direktif yakni berupa ancaman bagi manusia agar mematuhi perintah Allah karena Allah sendiri lah yang pada akhirnya menghukum manusia yang ingkar kepadaNya dan RasulNya.

D.    Penutup

Al Quran merupakan sarana komunikasi antara Tuhan dengan hambaNya. Al Quran diturunkan dengan menggunakan bahasa yang memiliki kandungan sastra yang tinggi, yakni bahasa Arab. Surat Al Ghasyiyah adalah surat makiyah yang di dalamnya menjelaskan tentang keadaan hari kiamat. Allah menurunkan surat ini dengan disertai tujuan dan fungsi tertentu Oleh karena  itu dalam penafsirannya dibutuhkan strategi tertentu. Salah satu strategi dalam penafsiran Al Quran adalah strategi pragmatik. Fenomena pragmatik dapat kita temukan dalam Al Quran diantaranya seperti fenomena tindak tutur. Fenomena tindak tutur dibagi menjadi tiga yaitu tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi.

 

 

Daftar Rujukan

 

Ainin, Moh. 2001. “Pertanyaan dalam Al Qur’an: Suatu Tinjauan Pragmatik”. Jurnal Al Hadharah, (1) 2: 121-137.

Ainin, Moh., Asrori, Imam. 2008. Semantik Bahasa Arab. Surabaya:Hilal.

Al Khuli, Amin., Abu Zayd, Nashr Hamid. Tanpa Tahun. Metode Tafsir Sastra. Terjemahan oleh Khoiron Nahdhiyyin. 2004. Yogyakarta: Adab Press.

Al Qattan, Manna’ Khalil. 1973. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Terjemahan oleh Mudzakir, 2011. Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa.

Departemen Agama, 2010. Al Qur’an dn Tafsirnya Jilid: 10. Jakarta: Lenter Abadi.

Hidayati, 2009. Analisis Pragmatik Humor Nasruddin Hoja. Skripsi. Semarang: Fakultas Sastra Universitas Dipenogoro. Belum diterbitkan.

Leech, Geoffrey.Tanpa Tahun. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Terjemahan oleh D. D. Oka, 1993, Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Lubis, H.A. Hamid Hasan. 1991. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Munawir, A. Warson. 1997. Kamus Al Munawir Arab-Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Progressif.

Mun’in, Hamdani. 2008. “Tafsir Susastra Al Qur’an: Sebuh Kajin Historis”. Jurnal Teologia, (19) 1: 89-105.


[1]    Hurul Jinani adalah mahasiswi sastra Arab  Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang angkatan 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s