MAKALAH SEMANTIK

MEDAN MAKNA DAN ANALISIS KOMPONENSIAL

Hurul Jinani

M. Faris Fitrah

Susinta Lik Ana

Wahyu Ardhianana

Zainia Manzil

  1. Pendahuluan

Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna bahasa. Menurut Chaer (1990: 2) semantik adalah bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Objek yang dibahas oleh semantik mencakup keseluruhan makna yang terkandung dalam bahasa. Seperti yang dikemukakan oleh Nikelas (1988) dalam Ainin dan Asrori (2008), bahwa objek semantik adalah telaah tentang makna yang mencakup lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna, yang satu dengan yang lainnya serta pengaruh makna terhadap manusia dan masyarakat pengguna bahasa.

Makna dapat dibicarakan dari dua pendekatan, yakni pendekatan analitik dan atau referensial dan pendekatan operasional (Pateda, 1985: 48). Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai pendekatan analitik menggunakan teori medan makna dan teori komponensial.

  1. Medan Makna

Pembahasan mengenai medan makna meliputi beberapa substansi yakni pengertian medan makna, fungsi teori medan makna, hubungan sintagmatik, hubungan paradigmatik, identifikasi kata berada pada satu medan makna, dan kelebihan serta kelemahan teori makna. Penjelasan mengenai substansi- substansi medan makna sebagai berikut.

    1. Pengertian medan makna

Medan makna merupakan salah satu metode atau pendekatan untuk menganalisa makna yang terdapat pada kata atau unsur leksikal. Teori ini dikemukakan oleh Trier (semantic field: 1931), Lounsbury (lexical field: 1956), dan pakar-pakar linguistik lainnya dengan sebutan yang berbeda-beda. Hartimurti (1982) dalam Chaer (1990: 113) menyatakan bahwa medan makna (semantic field, domain) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu yang direalisasikan seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Menurut Umar (1982) dalam Ainin dan Asrori (2008:108), medan makna (al-haqlu ad-dillali) merupakan seperangkat atau kumpulan kata yang maknanya saling berkaitan.

Teori ini menegaskan bahwa agar kita memahami makna suatu kata, maka kita harus memahami pula sekumpulan kosa kata yang maknanya berhubungan. Berdasar pada penjelasan di atas kita dapat mengambil contoh nama warna-warna, nama-nama perabot, atau nama-nama istilah pelayaran yang dapat membentuk medan makna tertentu.

Dalam kaitannya dengan medan makna ini, para pencetus teori ini, Lyon misalnya berpendapat bahwa:

  1. Setiap butir leksikal hanya ada pada satu medan makna.

  2. Tidak ada butir leksikal yang tidak menjadi anggota pada medan makna tertentu.

  3. Tidak ada alas an untuk mengabaikan konteks.

  4. Ketidakmungkinan kajian terhadap kosa kata terlepas dari struktur (Umar, (1982) dalam Ainin dan Asrori (2008:107).

Dalam bahasa Arab, kata alwan mempunyai sederetan kata yang maknanya berhubungan, yaitu ahmar ‘merah‘, azraq ‘biru‘, ashfar ‘kuning‘, ahdlar ‘hijau‘, dan abyadl ‚‘putih‘. Kita juga mengenal istilah kekerabatan pada bahasa Indonesia, misalnya anak, cucu, cicit, piut, bapak/ayah, ibu, kakek, nenek, moyang, buyut, paman, bibi, saudara, kakak, adik, sepupu, kemenakan, istri, suami, ipar, mertua, menantu, dan besan (Chaer, 2002).

Beberapa contoh identifikasai medan makna dalam bahasa Arab yang dikemukakan (Umar, (1982) dalam Ainin dan Asrori (2008:108).

  1. أشياء حيةحيوانحشرةحيوان يمشي على أربع……

  2. طائرصقرحمامة

  3. امرأةعحوزةفتاةبنت

    1. Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik

Kata- kata yang berada dalam satu lingkup medan makna memiliki sebuah hubungan. Hubungan tersebut dapat berupa hubungan sintagmatik ataupun hubungan paradigmatik. Hubungan sintagmatik juga dapat disebut dengan hubungan kolokasi. Kolokasi sendiri berasal dari bahasa latin colloco yang berarti ada ditempat sama dengan (Chaer, 1990). Hubungan makna ini juga disebut hubungan in prasentia (Kridalaksana (1984) dalam Ainin dan Asrori, 2008: 109). Misalkan saja, kata-kata dokter, perawat, jarum suntik, dan bangsal. Kata-kata tersebut berada dalam satu kolokasi atau satu ruang lingkup yaitu pembicaraan mengenai rumah sakit. Contoh lain, kata-kata dosen, mahasiswa, kampus, dan mata kuliah berkolokasi dalam pembicaraan mengenai perkuliahan.

Dalam pembagian mengenai jenis makna juga terdapat jenis makna kolokasi. Makna kolokasi ini adalah makna kata dalam kaitannya dengan kata lain yang mempunyai tempat yang sama dalam sebuah kontruksi atau lingkungan kebahasaan(Ainin dan Asrori, 2008: 49). Contohnya cantik dan tampan. Keduanya adalah dua kata yang berada dalam satu lingkup bahasa karena sama-sama menunjukkan keindahan. Namun, dua kata tersebut tidak bisa digabungkan dengan masing-masing pasangan dari dua kata tersebut. Pasangan cantik adalah perempuan sedangkan tampan adalah pasangan laki-laki. Maka tidak bisa dikatakan laki-laki cantik dan perempuan tampan.

Berkaitan dengan hubungan sintagmatik ini, Umar (1982) dalam Ainin dan Asrori (2008) memberikan contoh- contoh berikut.

كلبنباحطعاميقدميرىعين

يسمعأذنفرسصهيلاشقرشعر

pada beberapa contoh di atas dapat kita pelajari bahwa masing- masing dari pasangan kata di atas tidak bisa disandingkan dengan pasangan yang lain. Sepertiيسمعأذن tidak mungkin يسمععين.

Sementara itu hubungan paradigmatis juga disebut dengan hubungan set. Yakni kata-kata yang berda dalam satu set dan dapat saling menggantikan (Chaer, 1990: 117). Hubungan makna ini juga disebut hubungan in absentia (Kridalaksana (1984) dalam Ainin dan Asrori, 2008: 110). Dalam bahasa Arab, hubungan paradigmatik dapat kita lihat pada kalimat berikut.

ذهب أحمد إلى المدرسة (الجامعة / سوربايا / الميدان)

(يأخد / يصب )يشرب زيد الماء

Berdasakan pada beberapa contoh di atas dapat kita pahami bahwa kata ذهبالمدرسةسورباياالميدان berada dalam satu medan makna yang memiliki hubungan makna dan tidak terikat. Kata ذهب bisa saja berpasangan dengan المدرسة, سوربايا ataupun الميدان.

    1. Identifikasi kata berada pada satu medan makna

Cara mengidentifikasi makna menggunakan teori medan makna sebagai berikut.

      1. Tentukan kata yang akan diidentifikasi. Misalnya surat.
      2. Hubungkan dengan kata-kata yang lain. Misalnya tukang pos, prangko, dan wesel.
      3. Simpulkan medan makna. Misalnya, pembicaraan kantor pos.

Maka, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kata surat,tukang pos, prangko, dan wesel berada pada satu medan makna yaitu pembicaraan mengenai kantor pos.

    1. Kelebihan dan Kelemahan serta fungsi Teori Makna

Umar (1982) dalam Ainin dan Asrori (2008:108) menyatakan agar kita dapat memahami makna suatu kata, maka kita harus memahami pula sekumpulan kosa kata yang maknanya berhubungan. Oleh karena itu teori medan makna tidak hanya membantu kita untuk memahami makna suatu kata, namun juga memahami kata-kata lain yang berhubungan dengan kata tersebut. Maka pemahaman kita mengenai kata-kata tersebut lebih luas.

Namun teori medan juga memiliki kelemahan karena tidak adanya upaya bagaimana mengidentifikasi ciri atau sifat yang lebih terperinci mengenai suatu kata. Teori medan makna hanya sebatas membantu kita untuk menggolongkan kata tersebut sehingga mengerti ruang lingkupnya.

  1. Analisis Komponensial

Pembahasan mengenai analisis komponensial meliputi beberapa substansi yakni pengertian analisis komponensial, fungsi teori analisis komponensial, cara menganalisis kata melalui analisis komponensial, serta kelebihan analisis komponensial. Penjelasan mengenai substansi- substansi analisis komponensial sebagai berikut.

  1. Pengertian Analisis Komponensial

Analisis komponensial adalah teori analisis makna yang menggunakan pendekatan melalui komponen-komponen makna. Pendekatan analisis komponensial ini berdasarkan kepada kepercayaan bahwa makna kata dapat dipecah-pecah menjadi elemen-elemen makna yang merupakan ciri makna yang bersangkutan. Elemen-elemen itu disebut komponen makna, oleh karena itu analisis ini disebut analisis komponensial (Kentjono, 1990: 82).

Analisis ini dapat dipergunakan untuk mendeskripsikan tata hubungan antar butir leksikal dalam sebuah medan makna atau mendeskripsikan sistem dan struktur medan leksikal (Wedhawati (1999) dalam Ainin dan Asrori, 2008: 110). Oleh karena itu cara ini lebih tepat dipakai untuk memerikan makna leksikon. Makna suatu leksikon dapat diungkap bila unsur-unsur pemberi makna bisa diungkapkan.

Kentjono (1990: 83) memberikan contoh komponen makna yang disusun dan digambarkan dengan diagram seperti berikut.

dewasa kawin

manusia anak-anak belumkawin

bernyawa hewan

benda tidak bernyawa

  1. Cara Menganalisis Kata Melalui Analisis Komponensial

Adapun unsur-unsur untuk menemukan kandungan makna kata, kita dapat mengikuti prosedur seperti yang dikemukakan oleh J.D Parera (2004 :159) sebagai berikut:

    1. Pilihlah perangkat kata yang secara intuitif kita perkirakan berhubungan.

    2. Temukanlah analogi-analogi di antara kata-kata yang seperangkat itu.

    3. Cirikanlah komponen semantik atau komposisi atas dasar analogi-analogi tadi.

Sebagai contoh biasanya dipilih perangkat kata yang menunjukkan atau berhubungan dengan nasabah keluarga. Ambillah perangkat kata “pria, wanita, putra, dan putri”. Satu analogi dapat dibentuk dari perangkat ini tergambar seperti di bawah ini:

Jika analisis kita benar, maka perbedaan didalam 2 subperangkat kata itu pertama adalah seks. “pria dan putra” dikatakan +jantan, “wanita dan putri” dikatakan –jantan. Keempat kata itu cocok dengan analogi kedua dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Analogi kedua yang menunjukkan perbedaan antara perangkat nasabah sejenis kelamin ini ialah kedewasaan. “pria dan wanita” secara intuitif adalah +dewasa sedangkan “putra dan putri” –dewasa. Hasil analisis komponen semantik akan berbentuk sebagai berikut:

 

  1. Kelemahan dan Kelebihan serta Fungsi Teori Analisis Komponensial

Dengan melakukan analisis komponensial kita bisa mengidentifikasi atau memerikan makna bahasa, juga bisa membedakan makna suatu kata dengan makna lain, misalnya membedakan wanita dari laki-laki, atau putri. Supaya makna kata dapat diperikan, sebanyak mungkin harus ditampilkan. Makin banyak fitur yang ditampilkan, makin jelas makna kata yang dimaksud.

Parera (2004: 161) mengungkapkan beberapa manfaat teori analisis komponensial yaitu dapat mengetahui benar dan tidaknya kalimat, dan beberapa kalimat bersifat anomali. Selain itu, Komponen makna juga berguna untuk perumusan makna dalam kamus dan untuk menentukan apakah kalimat yang digunakan dapat diterima atau tidak secara semantik. Analisis ini dalam kajian semantik leksikal tentu cukup menonjol mengingat manfaatnya yang cukup beragam dalam mengkaji makna kata dan hubungan makna antarkata dalam suatu bahasa.

Di suatu sisi, analisis komponensial memiliki kelebihan sebagaimana yang telah disebutkan, tapi di sisi lain, analisis komponensial memiliki kelemahan. Menurut Wahab (1999) dalam Ainin dan Asrori (2008: 110), kelemahan analisis ini terletak pada kemungkinan pemberian fitur yang sama untuk kata yang sebenarnya bersifat antonimi timbal balik yaitu oposisi makna kata ynag bersifat resiprokal. Misalnya, kata jual dan beli. Kelemahan lain dari analisis komponensial adalah adanya kesulitan untuk memberikan fitur-fitur secara lengkap untuk kata-kata yang digunakan sebagai fitur.

DAFTAR RUJUKAN

Ainin, Moch dan Asrori, Imam. 2008.Semantik Bahasa Arab. Malang: FS UM.

Chaer, Abdul. 1990. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Kentjono, Djoko. 1990. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Jakarta: FS UI.

Pateda, Mansoer. 1985. Senantik Leksikal. Manado: Nusa Indah.

Parera, J.D. 2004. Teori Linguistik. Jakarta: Erlangga.

 nb: mohon maaf ada beberapa gambar yang corrupted. harap dimaklumi.^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s